HUBUNGAN PERBEDAAN TINGGI MUKA AIR TERHADAP KADAR Cu DAN Zn DAUN SERTA PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI LAHAN GAMBUT



DOI: https://doi.org/10.25077/jsolum.18.1.12-22.2021

Eko Jaya Siallagan *  (Mahasiswa S2 Program Studi Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Riau)
Wawan Wawan (Dosen S2 Program Studi Ilmu Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Riau)
Nelvia Nelvia (Dosen S2 Program Studi Ilmu Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Riau)

(*) Corresponding Author

Abstract


Peatland is an important natural resource for human life because it can be used as growth of oil palm plantation. The growth of oil palm plantations in peatlands is strongly influenced by peat water management. This study aims to study the relationship of different water levels to the content of leaf Cu and Zn nutrients and the growth of oil palm plants (Elaeis guineensis Jacq.) in the peatlands. This research has been carried out on peatland areas in oil palm plantations of PT. Jatimjaya Perkasa Sei Bangko, Kubu District, Rokan Hilir Regency, Riau Province. Analysis of soil samples and plants samples has been carried out at the Soil Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Riau, Pekanbaru. The research was conducted in December 2017 to January 2018. This research was conducted using a survey method, the determination of the location of the study using a purposive sampling method, determination of sampling location is determined by stratified sampling method, where the strata in this study are grouped according to different peat water levels namely water level < 40 cm , 40 - 60 cm, and > 60 cm with oil palm plants at the same age which is six years and the piezometer has been installed properly. The parameters that observed in this study were soil pH, availability of Cu and Zn nutrient, total soil-K, content of Cu, Zn and K leaves and growth of oil palm plants which included plant height, midrib length and leaflet. The observed data were analyzed for variance and tested further by DNMRT at the level of 5%, analyzed by regression to see the relationship between water level and parameters. The results showed that peatland with water level of 40 - 60 cm had a soil pH, K-total soil, Cu leaves, Zn leaves, midrib length and the highest oil palm plantations compared to peat land with a groundwater level < 40 cm and > 60 cm, and has a different length of leaflets.

Key words : Cu and Zn nutrient, Oil palm plantation, Peatlands, Water Level.
Copyright (c) 2021 Eko Jaya Siallagan, Wawan Wawan, Nelvia Nelvia


Full Text:

PDF

References


Agus, F. dan I.G.M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF). Bogor

Alloway, B. J. 1995. Heavy metals in soils. 2rd Edition. Blackie Academic, Professional-Chapman and Hall. London-Glasgow-Wenheim New York. Tokyo, Melbourne, Madras. 368 p.

Andriesse, J. P. 2003. Ekologi dan Pengelolaan Tanah Gambut Tropika. IPB press. Bogor.

Andriesse, J. P. 1988. Nature and Management of Tropical Peat Soils.

FAO Soils Bull. 59 p.

Anwar, S. 2000. Fungsi, gejala dan penyebab terjadinya defisiensi unsur mikro pada tanaman kelapa sawit. Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), 8 (2): 89 – 97

Arsyad, D., K.R. Adiwiganda dan K. Martoyo. 1997. Produktivitas Kelapa Sawit pada Tanah Hemic Troposaprist. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Damanik MMB; BE Hasibuan; Fauzi; Sarifuddin & Hamidah Hanum. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Medan

Darmosarkoro, W., E.S. Sutarta dan Winarna. 2003. Teknologi Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit. Dalam Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Dinas Perkebunan Riau. 2013. Luas Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut. Pekanbaru

Dreissen, P.M. 1978. Peat soils. Soils and Rice. IRRI, Los Banos,

Philippines. 763-779 p.

Fauzi, Y., Widyastuti, E. Yustina, I. Satyawibawa dan R. Hartono. 2002. Seri Agribisnis Kelapa Sawit Edisi Revisi. Penebar Swadaya: Jakarta.

Gandini, T. 1998. Perubahan Sifat dan Klasifikasi Tanah Gambut Setelah 23 Tahun Penggunaan Lahan Untuk Pertanian Di Delta Berbak, Jambi. Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Gardner, 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press: Jakarta.

Hakim, N. M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, M.A, Diha, G.B. Hong, H.H Beriley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.

Kanapathy, K. 1972. Copper Requirement And Residual Effect With Maize On Peat Soil. Malaysia. Agric. 48:249-263.

Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit Di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Mangoensoekarjo, S. 2007. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Melling, L.R. Hatano, and K.J. Goh. 2005. Soil CO2 flux from three ecosystem in tropical peatland of Serawak, Malaysia. Tellus 57B: 1-11. UK.

Merian, E. 1994. Toxic Metal In The Environment. VCH Verlag sgeseli schatt mbH. Weinheim.

Naganuma, K. and M. Okasaki. 1992. Surface Charge and Adsorption Characteristics of copper and zinc on Peat Soils in Coastal Lowland Ecosystems in Southern Thailand and Malaysia. Showado Printing Co. Kyoto.

Napitupulu, M. dan A. Mudiantoro, 2015. Pengelolaan Sumber Dan Air Pada Lahan Gambut yang Berkelanjutan. Jakarta Pusat. Jakarta.

Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut Potensi Dan Kendala. Kasinus. Yogyakarta.

Nugroho, K., G. Gianinazzi,. and L.P.G. Widjaja Adhi. 1997. Soil Hydraulic Properties of Indonesian Peat. dalam: Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands (J.O. Rieley and S.E. Page, Eds.)., Samara Publ. Ltd., Cardigan, hal.147-155.

Nurdin, S. 2001. Analisis Perubahan Kadar Air dan Kuat Geser Tanah Gambut Lalombi Akibat Pengaruh Temperatur dan Waktu Pemanasan. Jurnal SMARTek, Vol. 9 No. 2. Mei 2011: 88 – 108 Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Palu.

Nurhayati, and B. Mulyanto, 2002. Perubahan Karakteristik Lahan Gambut Setelah Lebih 15 Tahun Pembukaan Lahan di Kalimantan Tengah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. VIII: 76-81.

Pahan, I. 2011. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar swadaya: Jakarta.

Pandjaitan, N., H. dan S. Hardjoamidjojoi,. 1999. Kajian sifat fisik lahan gambut dalam hubungan dengan drainase untuk lahan pertanian. Teknik Pertanian, Laboratorium Teknik Tanah dan Air, Jurusan Teknik Pertanian FATETA-IPB.

Poeloengan, Z., R. Adiwiganda dan P. Purba. 1995. Karakteristik Dan Produktitas Tanah Gambut Pada Areal Kelapa Sawit. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2006. Pembibitan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Rachim, Y. 2000. Penggunaan logam–logam polivalen untuk meningkatkan ketersediaan pospat dan produksi tanah gambut. Disertasi. Programm Pasca Sarjana. IPB. Bogor. Tidak dipublikasikan.

Radjagukguk, B. 2004. Peat soil of Indonesia: Location, classification, and problems for sustainability. In: Rieley and Page (Eds.). pp. 45-54. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peat and Peatland. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.

Rini, N. Hazli, S. Hamzar, dan B.P. Teguh. 2009. Pemberian Fly Ash pada Lahan Gambut untuk Mereduksi Asam Humat dan Kaitannya Terhadap Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Jurnal Teroka, volume 9 (2): 243-154.

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta.

Sabihan, S. G., Soepardi dan D. Sukardan 1990. Pupuk dan Pemupukan. Departemen Ilmu–Ilmu Tanah. Faperta IPB. Hal 35–37.

Sabiham, S., T.B. Prasetyo, and S. Dohong. 1997. Phenolic acid in Indonesian peat. Pp. 289-292. In Rieley and Page (Eds). Biodiversity and Sustainability of Tropical Peat and Peatland. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK

Sabiham, S. 2000. Kadar air kritis gambut Kalimantan Tengah dalam kaitannya dengan kejadian kering tidak balik. J. Tanah Tropika 11:21-30.

Sabiham S. 2007. Pengembangan Lahan Secara Berkelanjutan Sebagai Dasar Dalam Pengelolaan Gambut di Indonesia. Makalah Utama Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa. Kapuas 3-4 Juli 2007.

Sagiman, S. 2005. Pemanfaatan Lahan Gambut Dengan Perspektif Pertanian Berkelanjutan. Dalam: Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura.

Salim, A. 1991. Alternatif Pemanfaatan Lahan Gambut di Sumatera Barat. Harian Haluan.

Sahputra, R. 2016. Pengaruh Kedalaman Muka Air Tanah dan Bahan Organik Terhadap Ketersediaan Hara dan Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Lahan Gambut. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Universitas Riau. Pekanbaru.

Setyamidjaja. 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta.

Siagian, N. A. 2012. Pengaruh Pemupukan P Dan K Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Pembibitan Utama. Skripsi. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.

Siagian, 2016. Distribusi Fe, Cu Dan Zn Pada Lahan Gambut Perkebunan Kelapa Sawit Berdasarkan Jarak Dari Batang Dan Ketebalan Gambut Pada Musim Hujan. Tesis. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Siallagan, E.J. 2015. Efektivitas Pupuk Majemuk dan Cu Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Lahan Gambut. Universitas Riau. Pekanbaru. Tidak dipublikasikan

Singh, G. 1983. Micronutrient studies of oil palm on peat. Paper 2. In: Seminar on Fertilisers in Malaysian Agriculture, Serdang. The Malaysian Society of Soil Science and University Pertanian Malaysia. 28 March, 1983

Situmorang, P.C. 2015. Pengaruh Kedalaman Muka Air Tanah dan Mulsa Organik terhadap Sifat Fisik dan Kimia Tanah Gambut pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq). Skripsi (Tidak dipublikasikan). Universitas Riau. Pekanbaru.

Slamet, B. 2008. Manajemen Hidrologi Di Lahan Gambut. USU Repository. Medan

Soegiman. 1982. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara. Jakarta. Terjemah.

Soepardi, G. 1982. Sifat dan Ciri Tanah. Depertemen Ilmu ilmu Tanah Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.

Sosiawan, H. 2014. Variasi Temporal dan Spasial Tinggi Muka Air Tanah Gambut. Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Bogor.

Subiksa, I G.M. 2000. Ameliorasi Lahan Gambut Untuk Usaha Tani yang Berkelanjutan. Dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa. Cipayung, 25-27 Juli 2000.

Suhardjo, H. and P.M. Driessen. 1975. Reclamation and use of Indonesian lowland peats and their effects on soil conditions. p419-424. Proc. Third Asean Soil Conf., Kuala Lumpur, Malaysia.

Sutarta, E.S., S. Rahutomo., W. Darmosarkoro dan Winarna. 2000. Peranan Unsur Hara Dan Sumber Hara Pada Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit. Lahan & Pemupukan Kelapa Sawit. Edisi 1, Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan.

Uexkull, Von, H.R. 1992. Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.). In W. Wichmannn (Ed), IFA Worid Fertilizer Use Manual. p.245-253

Valentina, R. 2014. Pengaruh tinggi muka air tanah dan ukuran serat tanah gambut terhadap perakaran dan pertumbuhan tanaman akasia (Acacia crassicarpa). Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Pertanian. 1(2): 1 – 15.

Wahyunto, S. Ritung, Suparto, dan H. Subagyo, 2005. Sebaran Gambut dan Kandungan Karbon di Sumatera dan Kalimantan. Proyek Climate Change, Foresta, and Peatlands in Indonesia. Wetlands International. Indonesia Programme dan Widlife Habitat Canada. Bogor.

Warneke, D. D., and S. A. Barber. 1973. Diffusion of zinc in soils: III. Relation to zinc adsorption isotherms. Soil Science. Soc. Am. Proc.37:

–358.

Winarna. 2015. Pengaruh Kedalaman Muka Air Tanah dan Dosis Terak Baja terhadap Hidrofobisitas Tanah Gambut, Emisi Karbon dan Produksi Kelapa Sawit. Disertasi (Tidak Dipublikasikan). Institut Pertanian Bogor. Bogor.


StatisticsArticle Metrics

This article has been read : 134 times
PDF file viewed/downloaded : 0 times

Copyright (c) 2021 Eko Jaya Siallagan, Wawan Wawan, Nelvia Nelvia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

ISSN: 2356-0835