PENGARUH PEMBERIAN DOLOMIT TERHADAP BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH GAMBUT DAN PERTUMBUHAN SERTA HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L)



DOI: https://doi.org/10.25077/jsolum.16.1.29-39.2019

Farah Ilham *  (Prodi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang)
Teguh Budi Prasetyo (Prodi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang)
Sandra Prima (Prodi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang)

(*) Corresponding Author

Abstract


This research was aimed to study the effect of dolomite on chemical properties of peat soil and as well as on growth and yield of onion. The research was in form of pot experiment having 5 treatments (0 ton dolomite Ha-1 ; 2.5 ton dolomite Ha-1 ; 5 ton dolomite Ha-1 ; 7.5 ton dolomite Ha-1 ; 10 ton dolomite Ha-1) and 3 replications which were allocated in Completely Randomized Design. Parameters analyzed were pH H2O, available sulphur, available phosphorus, CEC, and exchangeable cations, as well plant height, plant dry weight, sulphur uptake, and diameter of tubers. Data resulted were analyzed the variance using F-test at 5% level of significance and then it was continued using Duncan New’s Multiple Range Test (DNMRT) at 5% level if F-test > F-table. The results showed that 10 ton dolomite Ha-1was the optimum dose to improve chemical characteristics of peat soils. It increased pH H2O by 1.16 unit, sulphur uptake by 0.005 %, available phosphorus by 5.7 ppm, CEC by 9.67 Cmol Kg-1 and exchangeable K by 0.09 Cmol Kg-1, Mg by 0.19 Cmol Kg-1, Ca by 0.31 Cmol Kg-1 compared to soil without treatment ( 0 ton Ha-1 ). It also increased production of onion, especially plant height by 22.63 cm, plant fresh weight by 43.14 g and dry weight by 2.89 g, tuber fresh weight by 21.92 g, and dry weight by 2.89 g, sulphur uptake by 0.03 %, and diameter of tubers from none to be 2.00 cm compared to soil without treatment.

Key words : dolomite, peat soils, onion, soil chemical characteristics

Copyright (c) 2019 Farah Ilham


Full Text:

PDF

References


Departemen Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah. Edisi Kedua. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 35 hal.

Bancin, R.R. 2016. Pertumbuhan Produksi Bawang Merah di Lahan Gambut yang Diberi Amelioran dan Pupuk Nitrogen. Fakultas Universitas Pertanian Riau. Riau. JOM FAPERTA Vol. 3 No.1 Februari 2016

Djuhariningrum T, dan Rusmmadi. 2004. Penentuan kalsit dan dolomit secara kimia dalam batu gamping dari madura. Pusat Pengembangan Bahan Galian dan Geologi Nuklir-Batan.8:332-334

Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta. Hal 173.

Hardjowigeno, S. 1989. Sifat-Sifat Tanah Dan Potensi Tanah Gambut Sumatra Untuk Pengembangan Pertanian. Prosiding Seminar Tanah Gambut untuk Perluasan Pertanian. Fakultas Pertanian UISU, Medan. hal. 14-42.

Lakitan, Benyamin. 1996. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada. 203 Hal.

Luki, U. dan Abbas M.H. 1990. Potensi Tanah Gambut untuk Pengembangan Lahan Pertanian di Sumatera Barat. Dalam Proseding Seminar Tanah Gambut untuk Perluasan Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara. Medan. Hal 290-295.

Marsono dan Paulus, S. 2005. Pupuk Akar dan Jenis Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta. 54 hal.

Meene., V.D. 1984. Geological Aspects of Peat Formation in The Indonesian Malyasin Lowlands. Bulletin Geological Research and Development Centre, 9, 20-31.

Nazaruddin, A. 1989. Bawang Merah : Identifikasi Usaha Tani Mengupas Tuntas Bawang Merah Sebagai Komoditas Pertanian Bernilai Ekonomi Tinggi, Dilengkapi dengan Strategi Peningkatan Kualitas dan Kuantitas. Yogyakarta : Kanisius. 45 hal.

Nurhaida. 1988. Pengapuran Tanaman Kedelai Pada Tanah Gambut. Tesis S-1. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan. 80 hal.

Prasad, R. And Power, J.F 1997. Soil Fertility Management For Sustainable Agriculture. CRCLewis Publishers. Boca Raton New York.

Prasetyo, T. B. 1996. Perilaku Asam-asam organik Meracun pada Tanah Gambut yang diberi Garam Na dan Beberapa Unsur Mikro dalam kaintannya dengan Hasil Padi. [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor. 190 hal.

Prasetyo, T. B. 2003. Strategi Pengembangan Lahan Gambut di Masa Datang untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Palembang, 2-23 Mei. Palembang. Prosiding Seminar Lokarkarya Nasional. Hal 2-3.

Radjagukguk, B. 1991. Utilization and Management of Petlanda in Indonesia for Agriculture. Tropical Peat-Proceeding of International Symposium on Tropical Peatland Kuching 6-10 May, 21-27.

Safuan, L.O. 2002. Kendala Pertanian Lahan Kering Masam Daerah Tropika dan Cara Pengelolaannya. IPB. Bogor.

Saijo. 2016. Pengaruh Pemberian Kapur Dolomit Terhadap Hasil Tomat Pada Tanah Gambut. Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. 10 Hal

Sajarwan, A. 2007. Kajian Karakteristik Gambut Tropika yang Dipengaruhi Oleh Jarak Dari Sungai, Ketebalan Gambut, dan Tipe Hutan Di Daerah Aliran Sungai Sebangun. Desertasi. Fakultas Pertanian, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Hal.59.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu-ilmu Tanah. Fakultas Pertanian IPB. Bogor. 591 hal.

Stevenson, F.J. 1982. Humus chemistry,. John Wiley & Sons. New York. 380 p.

Takkar, P.N. 1988. Sulfur status of Indian soils. Proc. The Sulphur Institute — Fertilizer Association of India Symp. Sulfur in Indian Agriculture, New Delhi, 5/1/2/1-31.


StatisticsArticle Metrics

This article has been read : 2146 times
PDF file viewed/downloaded : 14 times

Copyright (c) 2019 Farah Ilham

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

ISSN: 2356-0835